Now it is my time to make review of Laurier Super Slimguard as my companion through my red days. This time I used the varian product of 22,5 cm length, which is suitable for normal to heavy menstruation. Voilaaa!! I have some things to say about, that you really have to know, gals! :D
What should be underlined about this pads is that it is very thin, only 1 mm of thickness. It is completed the Quicklock System with dry surface to bind inside. Because of the thinness, I just feel like I wear no pads in my periods days, feel free to do any activities, and it was amazing. It is also has strong material in surface, so it will not break easily when we try to clean or wash it after using it.
Laurier Super Slimguard is made by Kao corporation from Japan. I know Laurier pads products since very young age, even though I rare to used it because of the gel system that I never like. And just like another pads with gel, so about this pads. When you try to fill it with liquids, it will be getting very thick with the gel and cotton. But still, I could say that this is the sophisticated product of Kao.
However, there's some objections when I used this pads. In my opinion, the adhesive on the wings side are less stronger, so I get difficult in putting it in my pants. I think it has possibility to slip, even though I have no experience about my menstruation getting leakage.
At last, I recommend this pads for 3 stars!!! ***
--------------------------
Kali ini saya mencoba menggunakan Laurier Super Slimguard di hari merah saya. Kali ini, saya menggunakan jenis pembalut dengan panjang 22,5 cm, yang cocok untuk menstruasi normal hingga deras. Voillaa!! Saya memiliki beberapa komentar mengenai pembalut ini yang perlu kalian tahu, kawan! :D
Hal yang paling menonjol pada pembalut ini adalah ketipisannya, yang hanya 1 mm. Selain itu, pembalut ini pun dilengkapi dengan sistem Quicklock dengan permukaannya yang selalu kering. Karena ketipisannya, saya bahkan merasa seperti tidak memakai pembalut saat hari-hari merah saya, dan saya pun merasa leluasa melakukan berbagai aktivitas. Ini benar-benar luar biasa. Satu hal lagi, bahan permukaannya pun cukup kuat, sehingga tidak mudah rusak atau terkoyak ketika saya membersihkannya setelah memakainya.
Laurier Super Slimguard ini adalah produk dari Kao, Jepang. Saya mengetahui produk Laurier sejak saya masih sangat muda, meskipun saya tak begitu menyukainya disebabkan adanya sistem gel. Ketika kalia mencoba untuk mengisinya dengan cairan, pembalut ini akan lekas menjadi tebal karena gel dan kapasnya. Tapi boleh saya katakan bahwa produk yang satu ini merupakan produk yang cukup canggih di antara produk-produk pembalut Laurier lainnya.
Meski demikian, ada beberapa kekurangana yang saya rasakan saat menggunakan pembalut ini. Terutama soal daya rekat pada sayap-sayapnya, sehingga sulit untuk menempel di celana dalam. Hal ini membuat pembalut ini rentan untuk bergeser posisinya atau terlipat, dan tentu ini kurang menyamankan, meskipun sejauh ini saya belum mendapati kasus bocor karena selip.
Saya merekomendasikan 3 bintang untuk Laurier Super Slimguard! :D
Pads' experiences...
Let's talk about pads....
The Origin of Pads
The ancient egypt had already used the pads made from papyrus leaves which was chopped and softened to become tampon. This invention then was getting developed by the ancient greek with the use of soft cotton that was being wrapped by the small wood. Lots of materials are used to become pads. Such as dry grass, wool, cotton, rags, or vegetable fiber. It was put in a bag and inserted between the two legs.
In 1867, the menstrual cup was invented. This cup was put in the cloth bag and connected by the belt that was bound in a waist. At that time, women didn't wear anything behind their skirt but this belt when they got menstruation.

In 1876, the material of menstruation cup was changed into rubber material, so the mentruation blood was flowed by the pipe to the blood shelter that was brought outside the body. But the menstrual cup was just used by certain people. Poor people still used rags that could be washed after using it because they could not afford of buying the menstrual cup.
At world war I, the disposable pads was invented. A nurse that was in charge realized that the bandages that they used to bind the wound actually also could be used when they got menstruation. Then in 1900s, the disposable pads was made.
Kotex was the first brand, that was made and launched in America in 1920. Latest innovation was in progress. In 1960s, the pads using the belt was changed with the pads using adhesives as a keeper below the pads on the underwear. The materials were also being changed, from wood fiber or cotton fiber to another materials such as gel.
The origin of pads actually had been found in the written proofs since 10 century. Along the history, women always used anything for protection along their periods. Some of the proof could be found in menstruation museum . The Inuit people (mexican) used rabbit skin, while uganda people used papyrus leaves. But the common way were using the rags or old cloth.
The first disposable pads distributed worldwide was the products belong to Curads and Hartmann’s. The idea came from the nurses that used the pads from the wood porridge to absorb menstruation blood. This kind of pads considered as the cheap alternatives to be throwed away after using it, and the materials were also easy to get. The first disposable pads maker was also the producen of bandages. But it needed some times for the new products to be used widely, especially because of the price consideration.
The early disposable pads were made from the cotton wool. It had square shape, and completed with absorber layer. This absorber layer was then lengtenth to the front and behind in order to get connected to the special belt that was wore inside the underwear. This design was actually not effective, because it could be easily slipped. Then, the designer got the new idea by adding the adhesive on the below side of pads. In the middle of 1980s, the pads with the belt was gone from the market. It was time for pads with adhesive.
--------------------------------------
Dimulai dari zaman Mesir Kuno, orang Mesir kuno sudah mengenal pembalut yang pada saat itu masih terbuat dari daun papyrus yang dilembutkan dan bentuknya seperti tampon. Lalu berkembang di Yunani kuno dengan menggunakan bahan kapas halus dan dan dibungkus kayu kecil. Berbagai macam bahan yang digunakan untuk pembalut wanita seperti rumput kering , wol, kapas, kain bekas, maupun serat sayuran. Bentuknya yaitu dimasukkan ke dalam kantong dan diselipkan di antara kedua kaki.

Pada tahun 1867 ditemukan menstrual cup (mangkuk menstruasi). Mangkuk ini diletakkan ke dalam kantong kain yang dihubungkan dengan belt yang diikat di pinggang. Pada saat itu, wanita tidak menggunakan apa-apa di balik roknya, sehingga jika sedang menstruasi, mereka memakai pembalut tersebut.
Pada tahun 1876, bahan dari mangkuk menstruasi tersebut diganti bahannya menjadi bahan karet yang memungkinkan dapat menampung darah haid, lalu terus mengalir melalui selang menuju ke kantong penampungan yang digunakan di luar badan. Namun, yang menggunakan menstrual cup hanya orang-orang tertentu saja. Orang miskin masih menggunkan kain yang bisa dicuci sehingga bisa dipakai berulang kali, karena mereka tidak sanggup membeli menstrual cup.

Barulah pada perang dunia pertama, cikal bakal disposable pads (pembalut sekarang ini) ditemukan. Seorang perawat Perang Dunia pertama, ketika itu mereka menyadari bahwa pembalut yang mereka gunakan untuk membalut luka tentara ternyata bisa mereka gunakan ketika haid. Lalu pada tahun 1900-an, disposable pads dibuat.
Kotex adalah brand pertama untuk pembalut yang dilaunched di Amerika pada tahun 1920. Inovasi pun terjadi. Pada tahun 1960-an, pembalut yang menggunakan belt mulai digantikan dengan pembalut yang menggunakan lem. Lem tersebut berfungsi untuk menahan pada bagian bawah celana dalam. Bahannya pun diganti, yang awalnya memakai bahan wood fiber dan cotton fiber, hingga bahan-bahan lainnya seperti jel.
Sampai sekarang, inovasi pembalut wanita terus dilakukan, yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan wanita.
Benda yang berguna untuk menampung darah menstruasi ini ternyata sudah muncul dalam catatan tertulis sejak abad ke-10. Sepanjang sejarah, wanita menggunakan berbagai macam perlindungan menstruasi. Beberapa contohnya yang dapat dilihat di Museum Menstruasi, antara lain adalah sejenis bantalan yang dijahit dan celemek menstruasi. Orang Inuit (Eskimo) memakai kulit kelinci sementara di Uganda yang dipakai adalah papirus. Cara yang cukup umum adalah dengan menggunakan potongan kain tua.
Pembalut wanita sekali pakai yang pertama kali didistribusikan di dunia adalah produk dari Curads and Hartmann’s. Ide untuk produk ini berawal dari para perawat yang memakai perban dari bubur kayu untuk menyerap darah menstruasi. Bantalan jenis ini dianggap cukup murah untuk dibuang setelah dipakai dan bahan bakunya gampang didapat. Beberapa pembuat pembalut wanita sekali pakai pertama adalah juga produsen perban (pembalut wanita modern dapat digunakan untuk pertolongan pertama pada luka jika tidak ada perban karena pembalut wanita kemampuan menyerapnya tinggi dan steril). Butuh beberapa lama untuk produk baru itu dipergunakan secara luas oleh wanita. Hal ini terutama disebabkan masalah harga.
Pembalut wanita sekali pakai awalnya terbuat dari wol katun atau sebangsanya, berbentuk persegi dan diberi lapisan penyerap. Lapisan penyerapnya diperpanjang di depan dan belakang agar bisa dikaitkan pada sabuk khusus yang dipakai di bawah pakaian dalam. Desain model begini merepotkan karena suka selip ke depan atau belakang. Kemudian, desainer pembalut punya ide cerdas memberi perekat pada bagian bawah pembalut untuk dilekatkan pada pakaian dalam. Pada pertengahan 1980-an pembalut bersabuk lenyap dari pasaran digantikan pembalut berperekat.
Sejalan dengan perkembangan ergonomika, desain pembalut juga ikut berkembang sejak tahun 1980-an sampai sekarang. Dulu, pembalut tebalnya bisa sampai dua sentimeter dan karena bahan penyerapnya kurang efektif, suka bocor. Untuk mengatasinya, berbagai variasi diterapkan, misalnya menambahkan sayap, mengurangi ketebalan dengan memakai bahan tertentu dan sebagainya. Desain pembalut yang tadinya cuma persegi dibuat menjadi lebih berlekuk-liku, jenis pembalut pun jadi beragam. Jenis-jenis pembalut sekali pakai mencakup panty liner, ultra thin, regular, maxi, night dan maternity.
Beberapa pembalut bahkan diberi deodoran untuk menyamarkan bau darah dan ada beberapa jenis panty liner yang dirancang agar bisa pas dipakai bersama G-string. Meskipun pembalut sekali pakai telah banyak digunakan, pembalut dari kain (tentu saja dengan desain yang lebih baik, bukan sekadar potongan-potongan kain yang disumpalkan) kembali muncul sekitar tahun 1970-an dan cukup populer pada tahun 1980-an sampai 1990-an. Wanita memilih memakai kain dengan alasan kenyamanan, kesehatan, dampak lingkungan dan lebih murah karena bisa dicuci.
Dan sekarang berbagai macam dan jenis pembalut telah disesuaikan menurut kebutuhan pengguna.
sumber: kaskus.co.id
In 1867, the menstrual cup was invented. This cup was put in the cloth bag and connected by the belt that was bound in a waist. At that time, women didn't wear anything behind their skirt but this belt when they got menstruation.
In 1876, the material of menstruation cup was changed into rubber material, so the mentruation blood was flowed by the pipe to the blood shelter that was brought outside the body. But the menstrual cup was just used by certain people. Poor people still used rags that could be washed after using it because they could not afford of buying the menstrual cup.
At world war I, the disposable pads was invented. A nurse that was in charge realized that the bandages that they used to bind the wound actually also could be used when they got menstruation. Then in 1900s, the disposable pads was made.
Kotex was the first brand, that was made and launched in America in 1920. Latest innovation was in progress. In 1960s, the pads using the belt was changed with the pads using adhesives as a keeper below the pads on the underwear. The materials were also being changed, from wood fiber or cotton fiber to another materials such as gel.
The origin of pads actually had been found in the written proofs since 10 century. Along the history, women always used anything for protection along their periods. Some of the proof could be found in menstruation museum . The Inuit people (mexican) used rabbit skin, while uganda people used papyrus leaves. But the common way were using the rags or old cloth.
The first disposable pads distributed worldwide was the products belong to Curads and Hartmann’s. The idea came from the nurses that used the pads from the wood porridge to absorb menstruation blood. This kind of pads considered as the cheap alternatives to be throwed away after using it, and the materials were also easy to get. The first disposable pads maker was also the producen of bandages. But it needed some times for the new products to be used widely, especially because of the price consideration.
The early disposable pads were made from the cotton wool. It had square shape, and completed with absorber layer. This absorber layer was then lengtenth to the front and behind in order to get connected to the special belt that was wore inside the underwear. This design was actually not effective, because it could be easily slipped. Then, the designer got the new idea by adding the adhesive on the below side of pads. In the middle of 1980s, the pads with the belt was gone from the market. It was time for pads with adhesive.
--------------------------------------
Dimulai dari zaman Mesir Kuno, orang Mesir kuno sudah mengenal pembalut yang pada saat itu masih terbuat dari daun papyrus yang dilembutkan dan bentuknya seperti tampon. Lalu berkembang di Yunani kuno dengan menggunakan bahan kapas halus dan dan dibungkus kayu kecil. Berbagai macam bahan yang digunakan untuk pembalut wanita seperti rumput kering , wol, kapas, kain bekas, maupun serat sayuran. Bentuknya yaitu dimasukkan ke dalam kantong dan diselipkan di antara kedua kaki.
Pada tahun 1867 ditemukan menstrual cup (mangkuk menstruasi). Mangkuk ini diletakkan ke dalam kantong kain yang dihubungkan dengan belt yang diikat di pinggang. Pada saat itu, wanita tidak menggunakan apa-apa di balik roknya, sehingga jika sedang menstruasi, mereka memakai pembalut tersebut.
Pada tahun 1876, bahan dari mangkuk menstruasi tersebut diganti bahannya menjadi bahan karet yang memungkinkan dapat menampung darah haid, lalu terus mengalir melalui selang menuju ke kantong penampungan yang digunakan di luar badan. Namun, yang menggunakan menstrual cup hanya orang-orang tertentu saja. Orang miskin masih menggunkan kain yang bisa dicuci sehingga bisa dipakai berulang kali, karena mereka tidak sanggup membeli menstrual cup.

Barulah pada perang dunia pertama, cikal bakal disposable pads (pembalut sekarang ini) ditemukan. Seorang perawat Perang Dunia pertama, ketika itu mereka menyadari bahwa pembalut yang mereka gunakan untuk membalut luka tentara ternyata bisa mereka gunakan ketika haid. Lalu pada tahun 1900-an, disposable pads dibuat.
Kotex adalah brand pertama untuk pembalut yang dilaunched di Amerika pada tahun 1920. Inovasi pun terjadi. Pada tahun 1960-an, pembalut yang menggunakan belt mulai digantikan dengan pembalut yang menggunakan lem. Lem tersebut berfungsi untuk menahan pada bagian bawah celana dalam. Bahannya pun diganti, yang awalnya memakai bahan wood fiber dan cotton fiber, hingga bahan-bahan lainnya seperti jel.
Sampai sekarang, inovasi pembalut wanita terus dilakukan, yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan wanita.
Benda yang berguna untuk menampung darah menstruasi ini ternyata sudah muncul dalam catatan tertulis sejak abad ke-10. Sepanjang sejarah, wanita menggunakan berbagai macam perlindungan menstruasi. Beberapa contohnya yang dapat dilihat di Museum Menstruasi, antara lain adalah sejenis bantalan yang dijahit dan celemek menstruasi. Orang Inuit (Eskimo) memakai kulit kelinci sementara di Uganda yang dipakai adalah papirus. Cara yang cukup umum adalah dengan menggunakan potongan kain tua.
Pembalut wanita sekali pakai yang pertama kali didistribusikan di dunia adalah produk dari Curads and Hartmann’s. Ide untuk produk ini berawal dari para perawat yang memakai perban dari bubur kayu untuk menyerap darah menstruasi. Bantalan jenis ini dianggap cukup murah untuk dibuang setelah dipakai dan bahan bakunya gampang didapat. Beberapa pembuat pembalut wanita sekali pakai pertama adalah juga produsen perban (pembalut wanita modern dapat digunakan untuk pertolongan pertama pada luka jika tidak ada perban karena pembalut wanita kemampuan menyerapnya tinggi dan steril). Butuh beberapa lama untuk produk baru itu dipergunakan secara luas oleh wanita. Hal ini terutama disebabkan masalah harga.
Pembalut wanita sekali pakai awalnya terbuat dari wol katun atau sebangsanya, berbentuk persegi dan diberi lapisan penyerap. Lapisan penyerapnya diperpanjang di depan dan belakang agar bisa dikaitkan pada sabuk khusus yang dipakai di bawah pakaian dalam. Desain model begini merepotkan karena suka selip ke depan atau belakang. Kemudian, desainer pembalut punya ide cerdas memberi perekat pada bagian bawah pembalut untuk dilekatkan pada pakaian dalam. Pada pertengahan 1980-an pembalut bersabuk lenyap dari pasaran digantikan pembalut berperekat.
Sejalan dengan perkembangan ergonomika, desain pembalut juga ikut berkembang sejak tahun 1980-an sampai sekarang. Dulu, pembalut tebalnya bisa sampai dua sentimeter dan karena bahan penyerapnya kurang efektif, suka bocor. Untuk mengatasinya, berbagai variasi diterapkan, misalnya menambahkan sayap, mengurangi ketebalan dengan memakai bahan tertentu dan sebagainya. Desain pembalut yang tadinya cuma persegi dibuat menjadi lebih berlekuk-liku, jenis pembalut pun jadi beragam. Jenis-jenis pembalut sekali pakai mencakup panty liner, ultra thin, regular, maxi, night dan maternity.
Beberapa pembalut bahkan diberi deodoran untuk menyamarkan bau darah dan ada beberapa jenis panty liner yang dirancang agar bisa pas dipakai bersama G-string. Meskipun pembalut sekali pakai telah banyak digunakan, pembalut dari kain (tentu saja dengan desain yang lebih baik, bukan sekadar potongan-potongan kain yang disumpalkan) kembali muncul sekitar tahun 1970-an dan cukup populer pada tahun 1980-an sampai 1990-an. Wanita memilih memakai kain dengan alasan kenyamanan, kesehatan, dampak lingkungan dan lebih murah karena bisa dicuci.
Dan sekarang berbagai macam dan jenis pembalut telah disesuaikan menurut kebutuhan pengguna.
sumber: kaskus.co.id
Nina Anion : The Best Gel Pads for Health
In my country, the price is about 1,2 dollar on September 2014. It is produced by Winalite International, from China. By its history, Anion pads contains negative ions to fight the virus, bacteria, or fungi, so it is good for womens' health, prevent us from womb cancer. This product is also has been patented in 162 countries in the world.
What make me impressed so much is the mint sensation when I use this pads. I really enjoy it; the feeling of mint sensation on my intimate area. For me, it is such a good innovation -- even though I think not all women would be able to enjoy the mint sensation in their private area.
According to the label, the pads is also breathable, so it keep you feeling comfort and dry with no moist. The mint extract and active oxygen are on the blue layer. The oxygen keep your intimate area to always dry and protect us from bacteria.
Another thing about Nina Anion is that it uses the gel inside the pads to keep and lock the liquid. If you like pads with gel, I could say that Nina Anion is the best pads because its technology and design is already in advance. The surface always dry, and the material is also very strong but soft. So you don't need to worry that the pads will be tore or be broken, especially when you try to clean after using it.
Some women has a habit of cleaning the pads by washing it after using it -- including me. But I also know that some women just throw the pads into the rubbish bin after using it. For me, who has habit of cleaning and washing it, the gel technology is not so a good choice because it is lil bit disgusting to see or touch the gel in red and spread everywhere. On the former era, I still remember that some pads with gel mixed with cotton, and I was so bothered when I try to clean and wash it. But with Nina Anion, I have really a good compromise with gel; Because I found no cotton in it but just gel, and it's also easy to throw the gel because we could only tear the pads on the edge side.
About the thickness, it is wonderful because Nina Anion is very thin, so I could move easily with no worried. The design is also good and ecofriendly. There's only one plastic wrapped for the two sides of wings. I also have no complain with irritation when using it.
For me, Nina Anion is so cool... I recommend it for 4 stars.
------------------------------------------
Di Indonesia, harga pembalut ini berkisar 13 ribuan pada bulan September 2014. Pembalut ini diproduksi oleh Winalite International dari Cina. Menurut sejarahnya, pembalut Anion ini mengandung ion negatif yang sangat bagus untuk menjaga area kewanitaan tetap sehat tanpa terganggu bakteri, virus, maupun jamur sehingga sangat bagus bagi kesehatan wanita. Penggunaan pembalut Anion ini juga dapat menghindarkan diri dari penyakit kanker mulut rahim yang sering menjadi momok bagi wanita. Produk ini telah dipatenkan di 162 negara di dunia.
Yang paling membuat saya terkesan adalah sensasi mint yang saya rasakan ketika memakainya. Saya sangat menyukai sensasi tersebut, meskipun saya rasa tidak semua wanita menyukai adanya rasa sensasi semacam ini pada daerah kewanitaannya.
Menurut label yang terdapat pada kemasan, pembalut ini juga didesain memiliki pori-pori sehingga dijamin yang memakai tidak akan merasa lembab, karena adanya aliran oksigen. Extrak mint dan oksigen aktifnya terletak di lapisan birunya.
Satu hal lagi mengenai pembalut Anion adalah bahwa pembalut ini menggunakan teknologi gel untuk mengunci cairan. Jika Anda penyuka pembalut dengan teknologi gel, saya rasa Anion ini akan menjadi pembalut terbaik untuk Anda. Permukaannya tetap kering, dan bahannya pun sangat kuat namun terasa lembut sehingga tak perlu khawatir bahwa pembalut akan robek atau terkoyak-koyak.
Beberapa wanita memiliki kebiasaan mencuci pembalut setelah digunakan sebelum membuangnya. Termasuk saya. Itulah sebabnya, pembalut dengan teknologi gel ini kadang sedikit merepotkan, karena kadangkala gel-nya bisa menyebar kemana-mana, dan tentu ini kadangkala sangat menjijikkan melihat gel berwarna merah tersebar dimana-mana. Namun dengan Anion, nampaknya saya cukup berkompromi, karena pembalut ini sangat mudah dibersihkan dan dicuci meski dalam bentuk gel.
Pembalut ini pun sangat tipis sehingga sangat menyenangkan bagi para pemakai dengan aktifitas dan mobilitas tinggi. Daya perekatnya pun cukup kuat sehingga nyaris tak bergeser atau selip. Demikian pula dengan desain kemasannya yang eco-friendly, karena hanya terdapat satu plastik perekat untuk dua bagian sayapnya. Juga tak ada keluhan iritasi karena bahannya yang cukup lembut.
Bagi saya, Nina Anion benar-benar bagus, 4 bintang untuk rekomendasi ini.
What make me impressed so much is the mint sensation when I use this pads. I really enjoy it; the feeling of mint sensation on my intimate area. For me, it is such a good innovation -- even though I think not all women would be able to enjoy the mint sensation in their private area.
According to the label, the pads is also breathable, so it keep you feeling comfort and dry with no moist. The mint extract and active oxygen are on the blue layer. The oxygen keep your intimate area to always dry and protect us from bacteria.
Another thing about Nina Anion is that it uses the gel inside the pads to keep and lock the liquid. If you like pads with gel, I could say that Nina Anion is the best pads because its technology and design is already in advance. The surface always dry, and the material is also very strong but soft. So you don't need to worry that the pads will be tore or be broken, especially when you try to clean after using it.
Some women has a habit of cleaning the pads by washing it after using it -- including me. But I also know that some women just throw the pads into the rubbish bin after using it. For me, who has habit of cleaning and washing it, the gel technology is not so a good choice because it is lil bit disgusting to see or touch the gel in red and spread everywhere. On the former era, I still remember that some pads with gel mixed with cotton, and I was so bothered when I try to clean and wash it. But with Nina Anion, I have really a good compromise with gel; Because I found no cotton in it but just gel, and it's also easy to throw the gel because we could only tear the pads on the edge side.
About the thickness, it is wonderful because Nina Anion is very thin, so I could move easily with no worried. The design is also good and ecofriendly. There's only one plastic wrapped for the two sides of wings. I also have no complain with irritation when using it.
For me, Nina Anion is so cool... I recommend it for 4 stars.
------------------------------------------
Di Indonesia, harga pembalut ini berkisar 13 ribuan pada bulan September 2014. Pembalut ini diproduksi oleh Winalite International dari Cina. Menurut sejarahnya, pembalut Anion ini mengandung ion negatif yang sangat bagus untuk menjaga area kewanitaan tetap sehat tanpa terganggu bakteri, virus, maupun jamur sehingga sangat bagus bagi kesehatan wanita. Penggunaan pembalut Anion ini juga dapat menghindarkan diri dari penyakit kanker mulut rahim yang sering menjadi momok bagi wanita. Produk ini telah dipatenkan di 162 negara di dunia.
Yang paling membuat saya terkesan adalah sensasi mint yang saya rasakan ketika memakainya. Saya sangat menyukai sensasi tersebut, meskipun saya rasa tidak semua wanita menyukai adanya rasa sensasi semacam ini pada daerah kewanitaannya.
Menurut label yang terdapat pada kemasan, pembalut ini juga didesain memiliki pori-pori sehingga dijamin yang memakai tidak akan merasa lembab, karena adanya aliran oksigen. Extrak mint dan oksigen aktifnya terletak di lapisan birunya.
Satu hal lagi mengenai pembalut Anion adalah bahwa pembalut ini menggunakan teknologi gel untuk mengunci cairan. Jika Anda penyuka pembalut dengan teknologi gel, saya rasa Anion ini akan menjadi pembalut terbaik untuk Anda. Permukaannya tetap kering, dan bahannya pun sangat kuat namun terasa lembut sehingga tak perlu khawatir bahwa pembalut akan robek atau terkoyak-koyak.
Beberapa wanita memiliki kebiasaan mencuci pembalut setelah digunakan sebelum membuangnya. Termasuk saya. Itulah sebabnya, pembalut dengan teknologi gel ini kadang sedikit merepotkan, karena kadangkala gel-nya bisa menyebar kemana-mana, dan tentu ini kadangkala sangat menjijikkan melihat gel berwarna merah tersebar dimana-mana. Namun dengan Anion, nampaknya saya cukup berkompromi, karena pembalut ini sangat mudah dibersihkan dan dicuci meski dalam bentuk gel.
Pembalut ini pun sangat tipis sehingga sangat menyenangkan bagi para pemakai dengan aktifitas dan mobilitas tinggi. Daya perekatnya pun cukup kuat sehingga nyaris tak bergeser atau selip. Demikian pula dengan desain kemasannya yang eco-friendly, karena hanya terdapat satu plastik perekat untuk dua bagian sayapnya. Juga tak ada keluhan iritasi karena bahannya yang cukup lembut.
Bagi saya, Nina Anion benar-benar bagus, 4 bintang untuk rekomendasi ini.
KOTEX Soft & Smooth; Thin and Comfort
About my experience of using KOTEX Soft & Smooth, I could say that it was my success experience of comfort.
According to the note on the label, KOTEX Soft & Smooth is a slim pads with complete V Care that make you feel active and confident everyday with leak-proof advantage, always dry, and comfortable. There's also a channel of anti leak that give you a better total protection from leakness and stains. And the blue layer has the function as a super absorber, that guard the liquid soon and keep it to always dry. The shape is also adjust to human's body so it is more comfortable, with the layer as soft as cottons, so it safe for smooth skin. This poduct is licensed by Kimberly-Clark Worldwide Inc from USA, but being produced and distributed in Indonesia by PT Kimberly-Clark Indonesia, Jababeka Industrial Estate, Cikarang, Bekasi.
There's three varians of KOTEX Soft & Smooth; 23 cm slim varian, 23 cm ultra thin varian, and 28 cm overnight varian. In this case, I tried 23 cm slim varian.
The most important in KOTEX Soft & Smooth is that it's layer very thin. I was just worried, whether it could solve the problem with leak, especially on the early days of periods. But in fact, I used KOTEX soft & smooth on varian slim 23 cm even at night, feeling comfort with it. When I checked it, I just found 10% of leak, and I think I still could tolerate on that. Maybe because of it's design which is too slim and thin, so it is easy to move or slip away. That's the cause of the 10% leak. But the remains are really okay.
Another advantages are the material, which is very soft, even the plastic behind and the wings. So far, I have no problem of irritation by using KOTEX Soft & Smooth. As I know, I have very sensitive skin. About the material of the pads is also important consideration for me.
For KOTEX Soft & Smooth, I recommend it as a good pads with 4 stars.
------------------------------------------------------------
Pengalaman memakai KOTEX Soft & Smooth ini boleh dikatakan sebagai pengalaman standard sebuah kenyamanan.
Menurut keterangan yang tertera pada bungkusnya, pembalut slim dengan keunggulan Complete V Care ini membuatmu tetap aktif dan percaya diri sepanjang hari anti bocor, tetap kering, dan nyaman. Terdapat saluran anti bocor yang memberikan perlindungan total yang lebih baik dari kebocoran dan noda. Juga terdapat lapisan biru penyerap super, yang menahan cairan dalam sekejap dan menjaga tetap kering. Bentuknya pun sesuai dengan lekuk tubuh sehingga lebih nyaman, dengan lapisan selembut kapas, sehingga nyaman pada kulit yang halus. Produk ini senyatanya adalah sebuah produk dengan lisensi dari Kimberly-Clark Worldwide Inc.
Ada 3 varian untuk KOTEX Soft & Smooth, yakni varian 23 cm slim, varian 23 cm ultra thin, dan varian 28 cm overnight. Dan yang kebetulan saya coba di sini adalah varian 23 cm slim.
Yang paling menonjol dalam pemakaian KOTEX Soft & Smooth ini adalah lapisannya yang sangat tipis. Sempat merasa khawatir, apakah dengan pembalut setipis itu akan mampu mengatasi derasnya datang bulan, terutama pada hari-hari awal. Tapi nyatanya, saya memakai produk KOTEX soft & smooth varian slim 23 cm di hari-hari awal, bahkan termasuk di malam hari. Dan ketika memeriksanya, tak banyak kebocoran terjadi. Barangkali hanya terjadi kebocoran sebanyak 10% saja, dan saya anggap itu masih dapat ditolerir. Mungkin hanya karena desainnya yang tipis dan ramping itulah yang membuat pembalut ini sedikit rentan untuk bergeser atau selip, dan inilah satu-satunya yang membuat rentan kebocoran.
Keunggulan lainnya adalah bahannya yang cukup lembut sehingga saya tidak mempunyai pengalaman iritasi. Bahkan bahan semacam plastik di bagian bawah dan sayap pun menurut saya cukup lembut dan ramah kulit. Karena kebetulan kulit saya cukup sensitif, faktor ini sangat penting sebagai pertimbangan dalam memilih pembalut.
Untuk KOTEX Soft & Smooth, rekomendasi saya adalah empat bintang atau bagus.
According to the note on the label, KOTEX Soft & Smooth is a slim pads with complete V Care that make you feel active and confident everyday with leak-proof advantage, always dry, and comfortable. There's also a channel of anti leak that give you a better total protection from leakness and stains. And the blue layer has the function as a super absorber, that guard the liquid soon and keep it to always dry. The shape is also adjust to human's body so it is more comfortable, with the layer as soft as cottons, so it safe for smooth skin. This poduct is licensed by Kimberly-Clark Worldwide Inc from USA, but being produced and distributed in Indonesia by PT Kimberly-Clark Indonesia, Jababeka Industrial Estate, Cikarang, Bekasi.
There's three varians of KOTEX Soft & Smooth; 23 cm slim varian, 23 cm ultra thin varian, and 28 cm overnight varian. In this case, I tried 23 cm slim varian.
The most important in KOTEX Soft & Smooth is that it's layer very thin. I was just worried, whether it could solve the problem with leak, especially on the early days of periods. But in fact, I used KOTEX soft & smooth on varian slim 23 cm even at night, feeling comfort with it. When I checked it, I just found 10% of leak, and I think I still could tolerate on that. Maybe because of it's design which is too slim and thin, so it is easy to move or slip away. That's the cause of the 10% leak. But the remains are really okay.
Another advantages are the material, which is very soft, even the plastic behind and the wings. So far, I have no problem of irritation by using KOTEX Soft & Smooth. As I know, I have very sensitive skin. About the material of the pads is also important consideration for me.
For KOTEX Soft & Smooth, I recommend it as a good pads with 4 stars.
------------------------------------------------------------
Pengalaman memakai KOTEX Soft & Smooth ini boleh dikatakan sebagai pengalaman standard sebuah kenyamanan.
Menurut keterangan yang tertera pada bungkusnya, pembalut slim dengan keunggulan Complete V Care ini membuatmu tetap aktif dan percaya diri sepanjang hari anti bocor, tetap kering, dan nyaman. Terdapat saluran anti bocor yang memberikan perlindungan total yang lebih baik dari kebocoran dan noda. Juga terdapat lapisan biru penyerap super, yang menahan cairan dalam sekejap dan menjaga tetap kering. Bentuknya pun sesuai dengan lekuk tubuh sehingga lebih nyaman, dengan lapisan selembut kapas, sehingga nyaman pada kulit yang halus. Produk ini senyatanya adalah sebuah produk dengan lisensi dari Kimberly-Clark Worldwide Inc.
Ada 3 varian untuk KOTEX Soft & Smooth, yakni varian 23 cm slim, varian 23 cm ultra thin, dan varian 28 cm overnight. Dan yang kebetulan saya coba di sini adalah varian 23 cm slim.
Yang paling menonjol dalam pemakaian KOTEX Soft & Smooth ini adalah lapisannya yang sangat tipis. Sempat merasa khawatir, apakah dengan pembalut setipis itu akan mampu mengatasi derasnya datang bulan, terutama pada hari-hari awal. Tapi nyatanya, saya memakai produk KOTEX soft & smooth varian slim 23 cm di hari-hari awal, bahkan termasuk di malam hari. Dan ketika memeriksanya, tak banyak kebocoran terjadi. Barangkali hanya terjadi kebocoran sebanyak 10% saja, dan saya anggap itu masih dapat ditolerir. Mungkin hanya karena desainnya yang tipis dan ramping itulah yang membuat pembalut ini sedikit rentan untuk bergeser atau selip, dan inilah satu-satunya yang membuat rentan kebocoran.
Keunggulan lainnya adalah bahannya yang cukup lembut sehingga saya tidak mempunyai pengalaman iritasi. Bahkan bahan semacam plastik di bagian bawah dan sayap pun menurut saya cukup lembut dan ramah kulit. Karena kebetulan kulit saya cukup sensitif, faktor ini sangat penting sebagai pertimbangan dalam memilih pembalut.
Untuk KOTEX Soft & Smooth, rekomendasi saya adalah empat bintang atau bagus.
Subscribe to:
Comments (Atom)

